Rabu, 14 Mei 2014

INJIL MENURUT TOKO SERBA ADA


Pada suatu hari seorang pengemis wanita yang dikenal dengan sebutan "Bag Lady" (karena segala harta-bendanya hanya termuat dalam sebuah tas yang ia jinjing kemana-mana sambil mengemis) memasuki sebuah Dept. Store yang mewah sekali.

Pengemis itu mencari sesuatu dibagian Gaun Wanita. Ia mendatangi counter paling eksklusif yang memajang gaun-gaun mahal bermerek dengan harga diatas Rp. 20 juta per piece. Baju-baju yang mahal dan mewah !
pengemis itu memanggil seorang pelayan yang kemudian mendatanginya dengan ramah.

"Saya ingin mencoba gaun merah muda itu ?"

"Berapa ukuran yang anda perlukan ?"

"Tidak tahu !"

"Baiklah, mari saya ukur dulu."

Pelayan itu mengambil pita meteran, mendekati pengemis itu, mengukur bahu, pinggang, dan panjang badannya. Bau menusuk hidung terhirup ketika ia berdekatan dengan pengemis ini. Ia cuek saja. Ia layani pengemis ini seperti satu-satunya pelanggan terhormat yang mengunjungi counternya.

"OK, saya sudah dapatkan nomor yang pas untuk nyonya ! Cobalah yang ini !"

Ia memberikan gaun itu untuk dicoba di kamar pas.

"Ah, yang ini kurang cocok untuk saya. Apakah saya boleh mencoba yang lain?"

"Oh, tentu !"

Kurang lebih dua jam pelayan ini menghabiskan waktunya untuk melayani sang "bag lady". Apakah pengemis ini akhirnya membeli salah satu gaun yang dicobanya? Tentu saja tidak ! Gaun seharga puluhan juta rupiah itu jauh dari jangkauan kemampuan keuangannya.

Pengemis itu kemudian berlalu begitu saja, tetapi dengan kepala tegak karena ia telah diperlakukan sebagai layaknya seorang manusia. Biasanya ia dipandang sebelah mata. Hari itu ada seorang pelayan toko yang melayaninya, yang menganggapnya seperti orang penting, yang mau mendengarkan permintaannya.

Tetapi mengapa pelayan toko itu repot-repot melayaninya ? Bukankah kedatangan pengemis itu membuang-buang waktu dan perlu biaya bagi toko itu? Toko itu harus mengirim gaun-gaun yang sudah dicoba itu ke laundry, dicuci bersih agar kembali tampak indah dan tidak bau.
Pemandangan yang tidak biasa itu diperhatikan oleh seorang hamba Tuhan yang kebetulan ada di dalam toko itu. Kemudian hamba Tuhan ini bertanya kepada pelayan toko itu setelah ia selesai melayani tamu "istimewa"-nya.

"Mengapa anda membiarkan pengemis itu mencoba gaun-gaun indah ini ?"

"Oh, memang tugas saya adalah melayani dan berbuat baik (My job is to serve and to be kind !)."

"Tetapi, anda 'kan tahu bahwa pengemis itu tidak mungkin sanggup membeli gaun-gaun mahal ini?"

"Maaf, soal itu bukan urusan saya. Saya tidak dalam posisi untuk menilai atau menghakimi para pelanggan saya. Tugas saya adalah untuk melayani dan berbuat baik."

Kata kunci : kualitas pelayanan

Ulasan singkat :  bisa diingkari bahwa masih banyak pelayanan di sekitar kita dilandasi oleh motif yang tidak murni. Ada pelayan Tuhan yang mengerjakan demi popularitas, kemewahan, dan kedudukan seolah pelayanan kepada Tuhan adalah cabang dari entertaintmen (seni pertunjukan). Sehingga kualitas pelayanan yang diberikan disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian yang diperoleh.
Firman Tuhan mengecam hamba-hamba yang demikian itu seperti yang ditegaskan dalam ROMA  16:18 “Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya.”

Sewaktu berbicara dengan pelanggan, biarkan dia memimpin.

Anonim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar