Pada suatu hari seorang pengemis wanita yang dikenal
dengan sebutan "Bag Lady" (karena segala harta-bendanya hanya termuat
dalam sebuah tas yang ia jinjing kemana-mana sambil mengemis) memasuki sebuah
Dept. Store yang mewah sekali.
Pengemis itu mencari sesuatu dibagian Gaun Wanita.
Ia mendatangi counter paling eksklusif yang memajang gaun-gaun mahal bermerek
dengan harga diatas Rp. 20 juta per piece. Baju-baju yang mahal dan mewah !
pengemis itu memanggil seorang pelayan yang kemudian
mendatanginya dengan ramah.
"Saya
ingin mencoba gaun merah muda itu ?"
"Berapa
ukuran yang anda perlukan ?"
"Tidak
tahu !"
"Baiklah,
mari saya ukur dulu."
Pelayan itu mengambil pita meteran, mendekati
pengemis itu, mengukur bahu, pinggang, dan panjang badannya. Bau menusuk hidung
terhirup ketika ia berdekatan dengan pengemis ini. Ia cuek saja. Ia layani
pengemis ini seperti satu-satunya pelanggan terhormat yang mengunjungi
counternya.
"OK,
saya sudah dapatkan nomor yang pas untuk nyonya ! Cobalah yang ini !"
Ia
memberikan gaun itu untuk dicoba di kamar pas.
"Ah,
yang ini kurang cocok untuk saya. Apakah saya boleh mencoba yang lain?"
"Oh,
tentu !"
Kurang lebih dua jam pelayan ini menghabiskan
waktunya untuk melayani sang "bag lady". Apakah pengemis ini akhirnya
membeli salah satu gaun yang dicobanya? Tentu saja tidak ! Gaun seharga puluhan
juta rupiah itu jauh dari jangkauan kemampuan keuangannya.
Pengemis itu kemudian berlalu begitu saja, tetapi
dengan kepala tegak karena ia telah diperlakukan sebagai layaknya seorang
manusia. Biasanya ia dipandang sebelah mata. Hari itu ada seorang pelayan toko
yang melayaninya, yang menganggapnya seperti orang penting, yang mau
mendengarkan permintaannya.
Tetapi mengapa pelayan toko itu repot-repot
melayaninya ? Bukankah kedatangan pengemis itu membuang-buang waktu dan perlu
biaya bagi toko itu? Toko itu harus mengirim gaun-gaun yang sudah dicoba itu ke
laundry, dicuci bersih agar kembali tampak indah dan tidak bau.
Pemandangan yang tidak biasa itu diperhatikan oleh seorang
hamba Tuhan yang kebetulan ada di dalam toko itu. Kemudian hamba Tuhan ini
bertanya kepada pelayan toko itu setelah ia selesai melayani tamu "istimewa"-nya.
"Mengapa
anda membiarkan pengemis itu mencoba gaun-gaun indah ini ?"
"Oh,
memang tugas saya adalah melayani dan berbuat baik (My job is to serve and to
be kind !)."
"Tetapi,
anda 'kan tahu bahwa pengemis itu tidak mungkin sanggup membeli gaun-gaun mahal
ini?"
"Maaf,
soal itu bukan urusan saya. Saya tidak dalam posisi untuk menilai atau
menghakimi para pelanggan saya. Tugas saya adalah untuk melayani dan berbuat
baik."
Kata kunci : kualitas pelayanan
Ulasan singkat : bisa diingkari bahwa masih banyak pelayanan di
sekitar kita dilandasi oleh motif yang tidak murni. Ada pelayan Tuhan yang
mengerjakan demi popularitas, kemewahan, dan kedudukan seolah pelayanan kepada
Tuhan adalah cabang dari entertaintmen (seni pertunjukan). Sehingga kualitas
pelayanan yang diberikan disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian yang
diperoleh.
Firman
Tuhan mengecam hamba-hamba yang demikian itu seperti yang ditegaskan dalam ROMA
16:18 “Sebab orang-orang
demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka
sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang
manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya.”
Sewaktu
berbicara dengan pelanggan, biarkan dia memimpin.
Anonim
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar