Senin, 12 Mei 2014

BATU MENJADI ROTI



Berikut ini adalah kisah tentang Tuhan Yesus dan para muridNya. Kisah ini hanya sebuah kiasan, ceritanya sendiri tidak tertulis dalam Injil manapun. Oleh karenanya kisah ini hanya sebagai gambaran dan bukan sebagai bahan perdebatan.
Suatu hari Tuhan Yesus membawa murid-muridNya pergi ke atas bukit untuk mengajar mereka. Ia memerintahkan agar para murid tidak membawa bekal apapun, melainkan membawa sebuah batu yang cukup besar sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk membawanya
Para murid nampak keheranan dengan perintah Tuhan yang agak “tidak biasa “ ini namun mereka tetap mentaatiNya walaupun ada tanda tanya besar dalam hati mereka.
Hingga pada pagi harinya kedua belas murid Tuhan Yesus mengikuti perjalanan Sang Guru menuju ke sebuah bukit sambil memanggul batu yang cukup besar di pundak mereka, terkecuali Petrus, yang sengaja “memodifikasi” perintah Tuhan dengan hanya membawa sebuah batu sebesar kelereng dan dimasukkannya ke dalam saku celananya.
 kalian ini memang tidak berpikir sebelum bertindak “ kata Petrus agak berbisik agar tidak terdengar oleh Tuhan yang telah mendahului mereka di depan.”Tuhan kan memerintahkan kita naik ke atas bukit sambil membawa batu. Mengapa kalian menyiksa diri dengan memikul batu yang besar-besar, padahal Tuhan tidak tentukan seberapa besar pastinya batu yang boleh kita bawa. Lagipula ini perjalanan ke atas bukit, tentu amat sulit kalau harus dilakukan dengan memikul beban yang berat” kata Petrus berargumen. “ lihat aku ini, sengaja aku bawa batu sebesar kelereng yang bisa aku masukkan dalam saku. Ringan dan tak terlalu membebani, yang penting kan aku menjalankan perintah Tuhan untuk membawa batu “
Para murid mendengar penjelasan Petrus yang nampaknya masuk akal, namun kesebelas murid tersebut tidak tertarik untuk mengikuti cara Petrus dan tetap memikul batu menuju ke atas bukit.
Sesampainya di atas bukit Tuhan Yesus segera memerintahkan para murid untuk duduk melingkar serta meletakkan batu-batu yang mereka bawa tepat di hadapan mereka, sementara Petrus tetap menyimpan batu kecilnya itu di saku celananya. Kemudian mulailah Tuhan mengajar mereka kataNya : “ dalam perjalanan ke tanah perjanjian, Allah memelihara umat Israel dengan memberi mereka makan roti manna. Allah sanggup menyediakan makanan bagi umatNya dengan caraNya yang ajaib”
“nah, setelah melakukan perjalanan yang melelahkan tentu kalian semua pasti merasa lapar bukan ? kata Tuhan yang disambut dengan anggukan para murid.  ” sekarang kita akan makan bersama “
“ makanannya ada di mana Tuhan ? kami semua kan dilarang membawa bekal” tanya para murid.
“ sekarang angkatlah batu-batu yang kalian bawa itu di atas kepala kalian dan Aku akan berdoa agar batu-batu itu berubah menjadi roti”
Murid-murid Tuhan mentaati perintah itu dan mengangkat batu-batu yang mereka pikul di atas kepala mereka dan dalam sekejab berubahlah batu-batu itu menjadi roti seperti yang diperintahkan Tuhan.
Maka makanlah murid-murid Tuhan itu dengan lahap roti-roti besar yang di buat Tuhan. Namun tampak di sudut agak jauh, Petrus dengan rotinya yang sebesar kelereng sesuai ukuran batu yang di bawanya. Ia memakan roti kecilnya itu yang habis dalam sekali telan. Petrus masih merasa lapar namun ia hanya bisa memandangi teman-temannya yang makan roti sampai kenyang sambil menyesali ketidak taatannya.
Suatu kali, Tuhan memerintahkan mereka untuk membawa beberapa buah batu kecil dan mengajak mereka pergi ke tepi danau. Semua murid mentaati perintah Tuhan, terkecuali Petrus, yang pergi dengan membawa sebuah batu yang cukup besar dan berat. Rekan sesama murid mengingatkan bahwa Petrus tidak membawa batu sesuai ukuran dan jumlah yang diperintahkan, namun Petrus tidak peduli dan berujar : “aku tidak mau kecolongan, nanti kalau Tuhan mengubah batu-batu yang kita bawa ini menjadi roti, jangan harap kalian mendapat bagian dariku “
Di tepi danau Tuhan mengajar tentang iman dalam mengharapkan hal-hal yang besar dari Tuhan. Makin jauh dalam kita memiliki iman, maka makin jauh janji-janji Tuhan yang bisa kita jangkau.

Seusai mengajar Tuhan memerintahkan murid-muridNya untuk melempar sejauh mungkin batu-batu yang mereka bawa, sebagai gambaran sejauh itulah mereka memiliki harapan untuk menjangkau janji-janji Tuhan. Ada yang berhasil melempar sejauh 20 meter, ada yang 30 meter, dan ada yang sampai 50 meter. Bagaimana dengan Petrus ? dengan susah payah ia mengangkat batu yang dibawanya lalu berusaha melemparnya dengan sekuat tenaga, namun sayang hanya setengah meter saja batu itu bisa terlempar. Itulah akibatnya bila tidak taat.

Kata kunci : Ketaatan

Ulasan singkat : manusia memiliki kehendak bebas di dalam dirinya untuk memilih kepada siapa ia akan taat, apakah taat kepada Allah, suara hatinya sendiri, atau taat kepada iblis. Seringkali kehendak bebas ini menjadi penghalang untuk mentaati Allah, apalagi ketika perintah Allah itu nampak tak masuk akal atau tidak menyenangkan bagi kedagingan manusia, sebagaimana firman Allah menegaskan dalam LUKAS 16:10 “ barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar”.


Tuhan selalu memberikan harapan pada yang tidak menyerah, mujizat pada yang percaya dan Dia tidak meninggalkan mereka yang berjalan bersamaNya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar