Berikut
ini adalah kisah tentang Tuhan Yesus dan para muridNya. Kisah ini hanya sebuah
kiasan, ceritanya sendiri tidak tertulis dalam Injil manapun. Oleh karenanya
kisah ini hanya sebagai gambaran dan bukan sebagai bahan perdebatan.
Suatu
hari Tuhan Yesus membawa murid-muridNya pergi ke atas bukit untuk mengajar
mereka. Ia memerintahkan agar para murid tidak membawa bekal apapun, melainkan
membawa sebuah batu yang cukup besar sesuai dengan kemampuan masing-masing
untuk membawanya
Para
murid nampak keheranan dengan perintah Tuhan yang agak “tidak biasa “ ini namun
mereka tetap mentaatiNya walaupun ada tanda tanya besar dalam hati mereka.
Hingga
pada pagi harinya kedua belas murid Tuhan Yesus mengikuti perjalanan Sang Guru
menuju ke sebuah bukit sambil memanggul batu yang cukup besar di pundak mereka,
terkecuali Petrus, yang sengaja “memodifikasi” perintah Tuhan dengan hanya
membawa sebuah batu sebesar kelereng dan dimasukkannya ke dalam saku celananya.
kalian ini memang tidak berpikir sebelum
bertindak “ kata Petrus agak berbisik agar tidak terdengar oleh Tuhan yang
telah mendahului mereka di depan.”Tuhan kan memerintahkan kita naik ke atas
bukit sambil membawa batu. Mengapa kalian menyiksa diri dengan memikul batu
yang besar-besar, padahal Tuhan tidak tentukan seberapa besar pastinya batu
yang boleh kita bawa. Lagipula ini perjalanan ke atas bukit, tentu amat sulit
kalau harus dilakukan dengan memikul beban yang berat” kata Petrus berargumen.
“ lihat aku ini, sengaja aku bawa batu sebesar kelereng yang bisa aku masukkan
dalam saku. Ringan dan tak terlalu membebani, yang penting kan aku menjalankan
perintah Tuhan untuk membawa batu “
Para
murid mendengar penjelasan Petrus yang nampaknya masuk akal, namun kesebelas
murid tersebut tidak tertarik untuk mengikuti cara Petrus dan tetap memikul
batu menuju ke atas bukit.
Sesampainya
di atas bukit Tuhan Yesus segera memerintahkan para murid untuk duduk melingkar
serta meletakkan batu-batu yang mereka bawa tepat di hadapan mereka, sementara
Petrus tetap menyimpan batu kecilnya itu di saku celananya. Kemudian mulailah
Tuhan mengajar mereka kataNya : “ dalam perjalanan ke tanah perjanjian, Allah
memelihara umat Israel dengan memberi mereka makan roti manna. Allah sanggup
menyediakan makanan bagi umatNya dengan caraNya yang ajaib”
“nah,
setelah melakukan perjalanan yang melelahkan tentu kalian semua pasti merasa
lapar bukan ? kata Tuhan yang disambut dengan anggukan para murid. ” sekarang kita akan makan bersama “
“
makanannya ada di mana Tuhan ? kami semua kan dilarang membawa bekal” tanya
para murid.
“
sekarang angkatlah batu-batu yang kalian bawa itu di atas kepala kalian dan Aku
akan berdoa agar batu-batu itu berubah menjadi roti”
Murid-murid
Tuhan mentaati perintah itu dan mengangkat batu-batu yang mereka pikul di atas
kepala mereka dan dalam sekejab berubahlah batu-batu itu menjadi roti seperti
yang diperintahkan Tuhan.
Maka
makanlah murid-murid Tuhan itu dengan lahap roti-roti besar yang di buat Tuhan.
Namun tampak di sudut agak jauh, Petrus dengan rotinya yang sebesar kelereng
sesuai ukuran batu yang di bawanya. Ia memakan roti kecilnya itu yang habis
dalam sekali telan. Petrus masih merasa lapar namun ia hanya bisa memandangi
teman-temannya yang makan roti sampai kenyang sambil menyesali ketidak
taatannya.
Suatu
kali, Tuhan memerintahkan mereka untuk membawa beberapa buah batu kecil dan
mengajak mereka pergi ke tepi danau. Semua murid mentaati perintah Tuhan,
terkecuali Petrus, yang pergi dengan membawa sebuah batu yang cukup besar dan
berat. Rekan sesama murid mengingatkan bahwa Petrus tidak membawa batu sesuai
ukuran dan jumlah yang diperintahkan, namun Petrus tidak peduli dan berujar :
“aku tidak mau kecolongan, nanti kalau Tuhan mengubah batu-batu yang kita bawa
ini menjadi roti, jangan harap kalian mendapat bagian dariku “
Di
tepi danau Tuhan mengajar tentang iman dalam mengharapkan hal-hal yang besar
dari Tuhan. Makin jauh dalam kita memiliki iman, maka makin jauh janji-janji
Tuhan yang bisa kita jangkau.
Seusai
mengajar Tuhan memerintahkan murid-muridNya untuk melempar sejauh mungkin
batu-batu yang mereka bawa, sebagai gambaran sejauh itulah mereka memiliki
harapan untuk menjangkau janji-janji Tuhan. Ada yang berhasil melempar sejauh
20 meter, ada yang 30 meter, dan ada yang sampai 50 meter. Bagaimana dengan
Petrus ? dengan susah payah ia mengangkat batu yang dibawanya lalu berusaha
melemparnya dengan sekuat tenaga, namun sayang hanya setengah meter saja batu
itu bisa terlempar. Itulah akibatnya bila tidak taat.
Kata
kunci : Ketaatan
Ulasan
singkat : manusia memiliki kehendak bebas di dalam dirinya untuk memilih kepada
siapa ia akan taat, apakah taat kepada Allah, suara hatinya sendiri, atau taat
kepada iblis. Seringkali kehendak bebas ini menjadi penghalang untuk mentaati
Allah, apalagi ketika perintah Allah itu nampak tak masuk akal atau tidak
menyenangkan bagi kedagingan manusia, sebagaimana firman Allah menegaskan dalam
LUKAS 16:10 “ barangsiapa setia
dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan
barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam
perkara-perkara besar”.
Tuhan
selalu memberikan harapan pada yang tidak menyerah, mujizat pada yang
percaya dan Dia tidak meninggalkan mereka yang berjalan bersamaNya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar