Senin, 12 Mei 2014

KISAH DUA PENDETA


Alkisah ada dua orang pendeta yang baru turun dari pertapaan mereka dan hendak pergi ke sebuah kampung terdekat. Dalam perjalanan itu mereka berjumpa dengan seorang wanita yang amat tua di pinggir sebuah sungai yang tengah banjir, sehingga sang wanita tua itu tak dapat melaluinya.
Dengan belas kasihan satu dari kedua pendeta itu menawarkan bantuannya untuk menggendong wanita itu menyeberangi sungai yang tengah banjir.
Sesampainya di seberang, wanita tua itu bersujud kepada sang pendeta menyatakan rasa terima kasihnya. Dan segera sesudahnya, kedua pendeta berlalu dari tempat itu untuk melanjutkan perjalanan. Setelah berjalan agak lama, rupanya tindakan sang pendeta terhadap wanita tua itu menimbulkan kegusaran dalam hati teman sang pendeta yang dari tadi hanya berdiam diri.
“ mengapa engkau menolong wanita itu, bahkan tanpa malu-malu engkau menggendongnya, bukankah dalam ajaran kita dilarang bersentuhan dengan wanita “ kata teman sang pendeta menggerutu.
Jawab sang pendeta yang murah hati itu,“ aku sudah menurunkan wanita itu lebih 2 kilometer di belakang kita, namun sampai saat ini kamu masih menggendongnya “.

Kata kunci : menggendong

Ulasan singkat : ketika Tuhan Yesus berada di tengah-tengah orang berdosa untuk menyembuhkan penyakit dan mengabarkan tentang jalan keselamatan, banyak pemimpin agama dan orang-orang Farisi yang kesal karena menganggap bahwa seorang “pemimpin rohani” seperti Yesus tidak seharusnya berada di tempat semacam itu. Dan tindakan orang-orang Farisi yang enggan bersentuhan dengan masyarakat yang berdosa adalah tindakan yang baik dalam menjalankan syariat agama mereka. Namun dalam semua itu Tuhan menjawab mereka : “jadi pergilah dan pelajarilah arti Firman ini : yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (MATIUS 9:13).

Saya percaya, tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang bisa lebih efektif membantu seseorang untuk bertahan hidup, bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun, selain kesadaran bahwa hidupnya memiliki makna.

Victor Frankl

Tidak ada komentar:

Posting Komentar