Selasa, 13 Mei 2014

SURAT GEMBALA KEPADA PENGERJANYA


Seorang gembala di sebuah gereja kecil memiliki seorang pengerja yang belum lahir baru. Meskipun telah lama melayani di gereja tersebut namun sang pengerja masih memiliki keengganan untuk bersaksi atau melaksanakan tugas-tugas sebagai pembantu gembala.
Tapi gembala setempat menaruh kasih kepada pengerja muda ini dan dengan sabar membimbingnya agar lebih dewasa.
Bimbingan dari gembala ini ditanggapi sebagai tekanan terhadap pengerja muda ini sehingga suatu hari sang pengerja ini minta ijin untuk tinggal di rumah kos di luar kota, dimana tidak banyak orang Kristen di lingkungannya.,
Sang gembala tetap memperhatikannya dan dengan teratur menulis surat kepada pengerjanya.
“bagaimana kabarmu di tempat yang baru? Apakah engkau menemui masalah di tempatmu yang baru ?” tanya gembala dalam suratnya.
“aku baik-baik saja. Tidak ada masalah apa-apa di sini “, balas pengerja itu.
Bulan berikutnya gembala kembali menulis surat : “ bagaimana kabarmu di tempat yang baru ? apakah engkau menemui masalah di tempatmu yang baru ?”
”aku baik-baik saja. Tidak ada masalah apa-apa di sini”
Pada surat berikutnya sang gembala bertanya :” bagaimana kabarmu? Apakah orang di sekitarmu tahu bahwa engkau orang Kristen ?”
Jawab sang pengerja :” aku baik-baik saja . tidak ada seorangpun di sini yang tahu bahwa aku orang Kristen “.

Kata kunci : kesaksian Kristen

Ulasan singkat : Kehidupan Kristen yang dialami oleh seseorang yang telah mengalami kelahiran baru, adalah gaya hidup yang berbeda dari kebanyakan prilaku orang-orang yang tidak mengenal Allah. Seringkali perubahan gaya hidup ini dianggap sebagai sikap fanatik atau sok suci, sehingga justru kerap menimbulkan kecaman dari orang-orang dunia.
Orang Kristen yang hidup baru pasti akan mendapat tantangan, baik dari lingkungan keluarga atau masyarakat di sekitarnya, hal ini sesuai dengan peringatan Tuhan Yesus dalam YOHANES 15:18 “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu’.

Lawan kata kasih itu bukan benci ! melainkan acuh tak acuh.

Elia Wiesel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar