Jumat, 16 Mei 2014

GORESAN DI MOBIL


Di sebuah jalan yang menurun di lereng bukit, seseorang tengah memacu sebuah mobil jaguar dengan kecepatan tinggi. Pandangannya tertuju ke depan, tak dihiraukannya pepohonan, ladang di lereng perbukitan dan beberapa orang yang berlalu di tepi jalan.
Ia terus menambah kecepatan dan hanya sedikit perlahan di tikungan-tikungan tajam. Benaknya diliputi oleh kebanggaan dan kepuasaan karena mengendarai mobil yang bernilai tinggi.
Saat melewati sebuah tikungan tajam yang dibatasi oleh pepohonan perdu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara benturan benda keras yang mengenai lampu mobil sebelah kanan. “braakk..!”. dengan cepat ia menginjak rem dan mobil berhenti tepat di bibir jurang.
 Laki-laki itu keluar dari mobil dengan keterkejutan dan amarah. Ia memperhatikan mobil kesayangannya yang tergores cukup dalam. Pandangannya segera berkeliling mencari oknum yang harus mempertanggungjawabkan kecerobohannya.
Tiba-tiba dari semak-semak muncullah seorang anak laki-laki kecil yang beringsut keluar dari persembunyiannya. Wajahnya Nampak ketakutan, dari pipi dan lengan kirinya tampak luka lecet dengan robekan kecil di beberapa bagian baju anak itu. Pria itu menatapnya dengan tajam :
"Apa yang telah kau lakukan!? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!"

"Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos di bengkel untuk memperbaikinya." Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu.

Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf.

"Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti...."

Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah.

"Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..."

Kini, ia mulai terisak.

"Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya"

Tak mampu berkata-kata lagi, pria muda itu terdiam. Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang sedang mengerang kesakitan. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya. Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.

"Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak."
Keduanya berjalan terseok diiringi tatapan mata sang pria yang  , melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.

Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat nurani kita. Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari suara Tuhan yang lembut. Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.

Kadang memang, ada yang akan "melemparkan batu" buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.

Kata kunci : melempar batu

Ulasan singkat : kesibukan pribadi seringkali melewatkan kita dari berbagai hal yang juga penting untuk diperhatikan. Tumbuh kembang anak, komunikasi dalam keluarga dan relasi social merupakan hal-hal penting yang menuntut kepeduliaan kita. Dan untuknya kita harus menyediakan waktu yang cukup.
Hal-hal tak terduga sering muncul sebagai teguran atas kelalaian kita untuk memperhatikan sebuah segmen kecil dari kesibukan kita tiap hari. Firman Tuhan juga memerintahkan agar kita juga mengembangkan kepedulian social seperti tertulis dalam AMSAL  17:17. Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

Kita mencukupi kebutuhan hidup dengan apa yang kita peroleh, namun kita menciptakan kehidupan dengan apa yang kita berikan

Winston Churchil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar