Di sebuah jalan yang menurun
di lereng bukit, seseorang tengah memacu sebuah mobil jaguar dengan kecepatan
tinggi. Pandangannya tertuju ke depan, tak dihiraukannya pepohonan, ladang di
lereng perbukitan dan beberapa orang yang berlalu di tepi jalan.
Ia terus menambah kecepatan dan hanya sedikit
perlahan di tikungan-tikungan tajam. Benaknya diliputi oleh kebanggaan dan
kepuasaan karena mengendarai mobil yang bernilai tinggi.
Saat melewati sebuah tikungan tajam yang dibatasi
oleh pepohonan perdu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara benturan benda keras
yang mengenai lampu mobil sebelah kanan. “braakk..!”. dengan cepat ia menginjak
rem dan mobil berhenti tepat di bibir jurang.
Laki-laki itu
keluar dari mobil dengan keterkejutan dan amarah. Ia memperhatikan mobil
kesayangannya yang tergores cukup dalam. Pandangannya segera berkeliling
mencari oknum yang harus mempertanggungjawabkan kecerobohannya.
Tiba-tiba dari semak-semak muncullah seorang anak
laki-laki kecil yang beringsut keluar dari persembunyiannya. Wajahnya Nampak
ketakutan, dari pipi dan lengan kirinya tampak luka lecet dengan robekan kecil
di beberapa bagian baju anak itu. Pria itu menatapnya dengan tajam :
"Apa
yang telah kau lakukan!? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!"
"Kamu
tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos di bengkel untuk
memperbaikinya." Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul
anak itu.
Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan
berusaha meminta maaf.
"Maaf
Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau
berhenti...."
Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan
leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah.
"Itu
disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda.
Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau
menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang
kesakitan..."
Kini, ia mulai terisak.
"Maukah
Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi
saya tak sanggup mengangkatnya"
Tak mampu berkata-kata lagi, pria muda itu terdiam.
Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak
yang sedang mengerang kesakitan. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu
menelan ludah. Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya si
cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal
miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi
pintu Jaguar kesayangannya. Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima
kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.
"Terima
kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak."
Keduanya
berjalan terseok diiringi tatapan mata sang pria yang , melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.
Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata
lewat nurani kita. Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar,
menyimak, dan menyadari suara Tuhan yang lembut. Kita kadang memang terlalu
sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa
pada banyak hal yang melintas.
Kadang memang, ada yang akan "melemparkan
batu" buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah
pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang
melemparkan batu-batu itu buat kita.
Kata kunci : melempar batu
Ulasan singkat : kesibukan pribadi seringkali
melewatkan kita dari berbagai hal yang juga penting untuk diperhatikan. Tumbuh
kembang anak, komunikasi dalam keluarga dan relasi social merupakan hal-hal
penting yang menuntut kepeduliaan kita. Dan untuknya kita harus menyediakan
waktu yang cukup.
Hal-hal
tak terduga sering muncul sebagai teguran atas kelalaian kita untuk
memperhatikan sebuah segmen kecil dari kesibukan kita tiap hari. Firman Tuhan
juga memerintahkan agar kita juga mengembangkan kepedulian social seperti tertulis
dalam AMSAL 17:17.
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam
kesukaran.
Kita
mencukupi kebutuhan hidup dengan apa yang kita peroleh, namun kita menciptakan
kehidupan dengan apa yang kita berikan
Winston Churchil
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar