Suatu
ketika Tuhan mengirim malaikatnya masuk dalam kehidupan seorang manusia. Ia
masih bayi ketika malaikat itu datang mengundangnya.
“bukalah
hatimu dan terimalah Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat”, kata malaikat Tuhan.
“aku
masih bayi, terlalu kecil untuk memahami undanganmu. Biarkanlah aku tumbuh
lebih dewasa baru kemudian datanglah kembali kepadaku.” Malaikat Tuhan pun
pergi meninggalkannya
Ketika
bayi itu telah tumbuh menjadi seorang kanak-kanak, datanglah malaikat Tuhan
kepadanya.”percayalah kepada Yesus”, katanya.
“aku
masih kanak-kanak. Duniaku adalah bermain dan kesenangan. Aku belum memikirkan
tentang hal-hal rohani yang terlalu rumit. Datanglah lain waktu”. Kata sang
kanak-kanak sambil terus memainkan bonekanya.
Dengan
kecewa malaikat itu pun berlalu.
Ketika
manusia itu beranjak dewasa dan telah menikah. Malaikat itu kembali
menjumpainya.
“kamu
lagi” kata pemuda itu acuh.
“sekarang
aku tengah berada dipuncak karirku dan aku baru menikah.aku masih sibuk dengan
pekerjaan dan rumah tanggaku. Aku tidak punya waktu untuk urusan-urusan rohani,
bagiku itu Cuma membuang waktu dengan percuma. Datanglah lain kali saat aku
benar-benar tidak ada kerjaan.
Malaikat
Tuhan segera berlalu dari tempat itu dengan sedihnya.
Kini
setelah tahun-tahun yang panjang berlalu, manusia itu telah menjadi tua, tak
berdaya, dan lunglai dalam penyakit yang menggerogotinya.
Malaikat
Tuhan datang dan berharap kali ini manusia itu akan berubah. Tapi ketika
malaikat Tuhan mengundangnya untuk menerima Tuhan Yesus, ia menerima tanggapan
yang sama seperti sebelumnya.
“aku
sudah tua dan sakit-sakitan, apa yang Tuhan harapkan dariku ! pergilah dan
jangan pernah datang lagi.”
Tak
lama setelah itu, manusia itu mati. Ia dihakimi dan harus menerima akibat dari
keputusannya semasa ia hidup, yaitu menderita dalam api yang menyala-nyala.
Dalam erang kesakitan ia berseru, “Tuhan…Tuhan….tolong aku ! aku mau terima
Engkau untuk menyelamatkan aku dari api ini.”
Malaikat
Tuhan yang berdiri jauh darinya hanya bisa memandang dengan rasa iba dan
berkata : “namun semua sudah terlambat”.
Kata
kunci : keputusan
Ulasan
singkat : Alkitab menegaskan dalam
IBRANI 9:27 “ dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja
dan sesudah itu dihakimi “. Ini adalah sebuah penegasan agar kita lebih
serius memperhatikan bagaimana kita seharusnya menjalani hidup ini. Karena
hanya dalam hidup ini saja kita diberi kesempatan untuk membuat pilihan
berkenaan dengan nasib jiwa kita dalam kekekalan.
Kematian
bersifat lebih universal dari pada kehidupan; setiap orang mati, tapi tidak
setiap orang akan hidup.
Alan
Sach
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar