Selasa, 13 Mei 2014

PANGGILAN TUHAN ATAS SESEORANG


Suatu ketika Tuhan mengirim malaikatnya masuk dalam kehidupan seorang manusia. Ia masih bayi ketika malaikat itu datang mengundangnya.
“bukalah hatimu dan terimalah Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat”, kata malaikat Tuhan.
“aku masih bayi, terlalu kecil untuk memahami undanganmu. Biarkanlah aku tumbuh lebih dewasa baru kemudian datanglah kembali kepadaku.” Malaikat Tuhan pun pergi  meninggalkannya
Ketika bayi itu telah tumbuh menjadi seorang kanak-kanak, datanglah malaikat Tuhan kepadanya.”percayalah kepada Yesus”, katanya.
“aku masih kanak-kanak. Duniaku adalah bermain dan kesenangan. Aku belum memikirkan tentang hal-hal rohani yang terlalu rumit. Datanglah lain waktu”. Kata sang kanak-kanak sambil terus memainkan bonekanya.
Dengan kecewa malaikat itu pun berlalu.
Ketika manusia itu beranjak dewasa dan telah menikah. Malaikat itu kembali menjumpainya.
“kamu lagi” kata pemuda itu acuh.
“sekarang aku tengah berada dipuncak karirku dan aku baru menikah.aku masih sibuk dengan pekerjaan dan rumah tanggaku. Aku tidak punya waktu untuk urusan-urusan rohani, bagiku itu Cuma membuang waktu dengan percuma. Datanglah lain kali saat aku benar-benar tidak ada kerjaan.
Malaikat Tuhan segera berlalu dari tempat itu dengan sedihnya.
Kini setelah tahun-tahun yang panjang berlalu, manusia itu telah menjadi tua, tak berdaya, dan lunglai dalam penyakit yang menggerogotinya.
Malaikat Tuhan datang dan berharap kali ini manusia itu akan berubah. Tapi ketika malaikat Tuhan mengundangnya untuk menerima Tuhan Yesus, ia menerima tanggapan yang sama seperti sebelumnya.
“aku sudah tua dan sakit-sakitan, apa yang Tuhan harapkan dariku ! pergilah dan jangan pernah datang lagi.”
Tak lama setelah itu, manusia itu mati. Ia dihakimi dan harus menerima akibat dari keputusannya semasa ia hidup, yaitu menderita dalam api yang menyala-nyala. Dalam erang kesakitan ia berseru, “Tuhan…Tuhan….tolong aku ! aku mau terima Engkau untuk menyelamatkan aku dari api ini.”
Malaikat Tuhan yang berdiri jauh darinya hanya bisa memandang dengan rasa iba dan berkata : “namun semua sudah terlambat”.

Kata kunci : keputusan

Ulasan singkat : Alkitab menegaskan dalam IBRANI  9:27 “ dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja dan sesudah itu dihakimi “. Ini adalah sebuah penegasan agar kita lebih serius memperhatikan bagaimana kita seharusnya menjalani hidup ini. Karena hanya dalam hidup ini saja kita diberi kesempatan untuk membuat pilihan berkenaan dengan nasib jiwa kita dalam kekekalan.

Kematian bersifat lebih universal dari pada kehidupan; setiap orang mati, tapi tidak setiap orang akan hidup.

Alan Sach

Tidak ada komentar:

Posting Komentar