Selasa, 13 Mei 2014

SEPERTI SAPI


Di sebuah desa yang damai, hiduplah seorang petani bersama sapinya yang setia. Pada suatu pagi ia pergi ke kandang sapinya dan bersiap untuk bekerja di sawah.
“ayo sapi bangun, kita harus segera berangkat ke sawah sekarang”
“ahh, tunggu sebentar pak tani, hari masih gelap dan badanku kedinginan karena embun pagi”
“kalau kamu merasa kedinginan, itu berarti sama denganku. Aku juga kedinginan, tapi kita harus tetap segera berangkat.
Lalu keduanya berjalan bersama menuju sawah.
Petani itu membajak sawah bersama sapinya hingga hari siang yang terik menghentikan pekerjaan mereka.
“pak tani ayo kita istirahat sebentar, karena aku kepanasan dan merasa lapar.”
Jawab petani itu : “ kalau kamu merasa panas dan lapar, berarti sama denganku, akupun merasa kepanasan dan kelaparan.”
Lalu keduanya menuju pondok kecil di pinggir sawah untuk beristirahat.
Sementara petani itu makan bekalnya, dan sang sapi makan rumput di dekatnya, sayup-sayup terdengar bunyi lonceng gereja.
Si sapi terhenyak :” suara apa itu ?”
“itu suara lonceng gereja”.
“apa arti suara lonceng itu pak tani” kata si sapi ingin tahu
“itu adalah panggilan agar orang-orang datang untuk beribadah” jelas si petani.
 Lalu si sapi berjalan mendekati petani dan bertanya lagi :  “ tapi mengapa bapak tidak pergi ke gereja”
“itu karena aku tidak suka datang beribadah dan masih sibuk bekerja “
kemudian jawab sapi itu : “ kalau begitu bapak sama dengan saya”
Si petani terkejut dan dengan marah dia menyentak:” mengapa aku disamakan sepertimu !”
“karena aku juga tidak pernah pergi beribadah dan hanya sibuk dengan pekerjaanku”.
Mendengar jawaban sapinya, si petani itu merasa malu. Dan sejak itu ia tidak pernah melalaikan saat-saat pertemuan ibadah di gereja.

Kata kunci : kesetiaan beribadah

Ulasan singkat : Firman Tuhan mengajarkan mengenai pentingnya beribadah, sebagaimana di tulis dalam I TIMOTIUS 4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.
Allah memberikan waktu untuk bekerja dan sibuk dengan segala urusan, namun Allah juga mengingatkan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan. Yaitu saat dimana kita berserah diri dan memberikan hidup kita sepenuhnya sebagai persembahan yang hidup bagi Tuhan. Dalam persekutuan kita dengan Tuhan, kita mengakui Allah sebagai satu-satunya pribadi yang layak menerima hormat, pujian, dan keutamaan di atas segala-galanya.

Berdoa adalah bangkit dan mendekat kepada Allah dalam pikiran, dalam hati, dan dalam roh.

Freeman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar