Di
sebuah desa yang damai, hiduplah seorang petani bersama sapinya yang setia.
Pada suatu pagi ia pergi ke kandang sapinya dan bersiap untuk bekerja di sawah.
“ayo
sapi bangun, kita harus segera berangkat ke sawah sekarang”
“ahh,
tunggu sebentar pak tani, hari masih gelap dan badanku kedinginan karena embun
pagi”
“kalau
kamu merasa kedinginan, itu berarti sama denganku. Aku juga kedinginan, tapi
kita harus tetap segera berangkat.
Lalu
keduanya berjalan bersama menuju sawah.
Petani
itu membajak sawah bersama sapinya hingga hari siang yang terik menghentikan
pekerjaan mereka.
“pak
tani ayo kita istirahat sebentar, karena aku kepanasan dan merasa lapar.”
Jawab
petani itu : “ kalau kamu merasa panas dan lapar, berarti sama denganku, akupun
merasa kepanasan dan kelaparan.”
Lalu
keduanya menuju pondok kecil di pinggir sawah untuk beristirahat.
Sementara
petani itu makan bekalnya, dan sang sapi makan rumput di dekatnya, sayup-sayup
terdengar bunyi lonceng gereja.
Si
sapi terhenyak :” suara apa itu ?”
“itu
suara lonceng gereja”.
“apa
arti suara lonceng itu pak tani” kata si sapi ingin tahu
“itu
adalah panggilan agar orang-orang datang untuk beribadah” jelas si petani.
Lalu si sapi berjalan mendekati petani dan
bertanya lagi : “ tapi mengapa bapak
tidak pergi ke gereja”
“itu
karena aku tidak suka datang beribadah dan masih sibuk bekerja “
kemudian
jawab sapi itu : “ kalau begitu bapak sama dengan saya”
Si
petani terkejut dan dengan marah dia menyentak:” mengapa aku disamakan sepertimu
!”
“karena
aku juga tidak pernah pergi beribadah dan hanya sibuk dengan pekerjaanku”.
Mendengar
jawaban sapinya, si petani itu merasa malu. Dan sejak itu ia tidak pernah
melalaikan saat-saat pertemuan ibadah di gereja.
Kata
kunci : kesetiaan beribadah
Ulasan
singkat : Firman Tuhan mengajarkan mengenai pentingnya beribadah, sebagaimana
di tulis dalam I TIMOTIUS 4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi
ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup
ini maupun untuk hidup yang akan datang.
Allah
memberikan waktu untuk bekerja dan sibuk dengan segala urusan, namun Allah juga
mengingatkan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan. Yaitu saat dimana kita
berserah diri dan memberikan hidup kita sepenuhnya sebagai persembahan yang
hidup bagi Tuhan. Dalam persekutuan kita dengan Tuhan, kita mengakui Allah
sebagai satu-satunya pribadi yang layak menerima hormat, pujian, dan keutamaan
di atas segala-galanya.
Berdoa
adalah bangkit dan mendekat kepada Allah dalam pikiran, dalam hati, dan dalam
roh.
Freeman
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar